Melukis Seribu Gunung

Melukis Seribu Gunung | Chapter 7

Di dalam kediaman bupati memang tidak banyak orang, dan di pagi hari suasananya semakin sunyi. Xuyu sedang berjalan menuju ruang kerja Pei Ji ketika ia tiba-tiba melihat dua pemuda berbelok keluar dari sudut koridor yang mengarah ke gerbang utama. Salah satu mengenakan jubah cokelat senja, dan yang lain mengenakan jubah ungu anggur. Keduanya berjalan berdampingan […]

Melukis Seribu Gunung | Chapter 7 Read More »

Melukis Seribu Gunung | Chapter 6

Chengping jarang punya kesempatan untuk menggoda dia, mana mungkin dia akan menyerah begitu saja?“Itu tidak benar. Kenapa aku melihatmu tidak seperti seseorang yang akan menikah? Bukankah malam pengantin itu seharusnya hal yang membahagiakan?” Ia memandangi Pei Xiaoyuan dari atas ke bawah, dan tiba-tiba seolah mengerti sesuatu, menatapnya dengan penuh curiga:“Jangan-jangan Tuan Pei hanya mementingkan moral

Melukis Seribu Gunung | Chapter 6 Read More »

Melukis Seribu Gunung | Chapter 2

Bulan musim semi perlahan terbit dari balik hutan bunga di tepi air ungu yang berembun, memantulkan bayang pucatnya di permukaan air, seperti giok tenggelam yang bersinar lembut, kabut bulan menari samar bagai asap perak. Parit istana, yang airnya menyapu riasan yang dicuci para dayang menjelang senja, mengalir pelan, setengah jernih setengah keruh, membelah bayang bangunan

Melukis Seribu Gunung | Chapter 2 Read More »

Melukis Seribu Gunung | Chapter 1

Awal musim semi telah tiba, namun saat matahari tenggelam, hawa dingin malam masih setajam pisau. Di ujung jalan resmi di padang tandus, sekelompok orang dan kuda perlahan muncul. Beberapa penunggang mengawal sebuah kereta kuda, bergegas menuju sebuah kota terpencil yang berdiri di tengah pasir kuning, siluetnya memotong cahaya sunset. Ketika rombongan itu mendorong gerbang kota

Melukis Seribu Gunung | Chapter 1 Read More »

You cannot copy content of this page

Scroll to Top