Melukis Seribu Gunung | Chapter 21

Semalam turun hujan, dan pagi ini, bintang–bintang yang jarang itu seperti beberapa pasang mata lelah yang menggantung di langit. Sebelum fajar tiba, Ye Xuyu sudah meninggalkan penginapan dan melanjutkan perjalanannya.

Tempat yang akan ia capai ini adalah tujuan dari perjalanannya, ibu kota Chang’an.

Ia tidak kembali ke tempat seperti surga yang tersembunyi, di mana ia hidup menyepi bersama kakeknya selama tiga tahun, melainkan menuju ibu kota.

Ia sama sekali tidak berbohong dalam surat yang ia tinggalkan. Walaupun kepingan memori yang ada jauh di dalam kepalanya, memori sebelum ia bertemu Kakek, belum sepenuhnya tersambung, namun karena sakit kerasnya tiga tahun lalu, semuanya perlahan mulai muncul ke permukaan.

Ia berasal dari ibu kota.

Selama tiga tahun mereka menetap, ia tahu bahwa Kakek selalu memikirkan masa depannya. Waktu gerbang istana hancur, orang bisa keluar masuk tanpa halangan. Selain para pemberontak yang menjarah, juga ada banyak penjahat putus asa yang ingin mengambil kesempatan di tengah kekacauan. Ketika Kakek menemukannya di sudut mural tembok itu, ia mengenakan pakaian kasar dan menangis mencari ibunya. Kakek pasti mengira ia hanyalah anak biasa yang tersesat. Saat ia beranjak besar, Kakek pernah beberapa kali bertanya apakah ia masih ingat di mana rumahnya, apakah ia ingin kembali mencari kerabat. Dulu, ia tidak ingat dan tidak ingin kembali. Kemudian, ia ragu dan tidak berani mengatakannya.

Mungkin ia harus berterima kasih kepada Tuan muda Pei yang menerimanya sebagai saudara perempuan.

Kini semua keraguannya telah lenyap; ia telah memutuskan.

Jangan kembali. Jangan kembali.

Suara wanita cantik yang selalu muncul di dalam mimpinya terus menggema di telinganya, memperingatkannya agar jangan kembali.

Namun hari ini ia tetap kembali. Karena di sinilah simpul di dalam hatinya berada, dan juga asal takdir dirinya. Ia harus kembali.

Ketika ia meninggalkan Kediaman Bupati hari itu, alasan ia memilih pergi tanpa pamit adalah karena sejak ia memutuskan untuk kembali, maka daripada mengikuti pengaturan kakeknya untuk menjadi istri keluarga Pei dan menjalani sisa hidup yang stabil, ia tidak boleh lagi memiliki keterikatan yang tidak perlu dengan pihak itu.

Ia juga tahu bahwa betapapun tegas isi suratnya, Tuan Pei tidak akan pernah tenang membiarkan ia pergi sendirian. Karena itu, setelah ia mulai bepergian, ia sengaja menghindari beberapa kelompok orang dari keluarga Pei yang mencarinya di sepanjang jalur resmi. Ia kemudian meninggalkan rute selatan yang mulus dan makmur itu, dan memilih rute utara yang berbahaya, lalu bergerak ke selatan. Dari awal tahun hingga hari ini, di hari terakhir Bulan Keempat, ia telah sampai di tempat ini.

Setelah menempuh puluhan li lagi, ia akan mencapai Gerbang Kaiyuan, yang dikenal sebagai gerbang barat pertama dari Chang’an.

==

Pei Xiaoyuan tiba di Changlepo, di sebelah timur Chang’an, pada akhir Bulan Keempat tahun ke-17 Qiande — sehari sebelum batas waktu dalam surat pengangkatannya.

Changlepo hanya berjarak enam atau tujuh li dari gerbang timur utama kota kekaisaran — Gerbang Tonghua. Itu adalah jalur penting untuk para pejabat dan pedagang yang keluar dari Chang’an ke arah timur, dan Pos Changle berfungsi sebagai tempat penyambutan dan perpisahan. Ketika ia tiba, hari sudah gelap, dan hujan turun pada malam tadi. Mantel hujan tak dapat sepenuhnya menahan air. Meskipun sudah akhir musim semi, hawa dingin yang berubah tiba-tiba disertai hujan, ditambah beberapa hari perjalanan siang malam, membuat dirinya dan semua orang letih tak tertahankan. Pada saat itu, gerbang kota pun sudah ditutup, jadi mereka berhenti dan berencana menginap di Pos Changle dan masuk kota besok pagi. Tepat hari terakhir — jadi tidak dihitung terlambat.

Ia tidak membawa banyak orang, hanya dua. Karena He Jin memiliki jabatan, ia tak boleh memasuki ibu kota tanpa dipanggil, jadi mereka berpisah setelah meninggalkan Luzhou — He Jin kembali ke Ganliang.

Pelayan jaga malam di Pos Changle bermuka dingin, bahkan hampir tak mengangkat mata saat melihat orang. Hanya setelah melihat surat dari pengawal Jinwu, sikapnya sedikit berubah dan ia mengatur makanan serta tempat tinggal.

Kamar Pei Xiaoyuan sangat kecil, hanya cukup untuk satu tempat tidur dan satu meja. Jika ada satu orang lagi, orang itu bahkan tak dapat memutar badan. Kandang kuda juga dekat, dan bau menyengat sesekali terbawa angin.

Tingkat makanan dan akomodasi seperti ini jelas paling rendah, dan memang sesuai peraturan untuk pejabat dengan pangkat paling rendah. Ketika pelayan mengantar Pei Xiaoyuan masuk, ia melihat dua orang pelayannya tampak marah, dan mungkin ia sendiri juga merasa bahwa kamar ini tak pantas. Ia melirik wajah tuannya, lalu menjelaskan bahwa sejak awal tahun, banyak pejabat tinggi dan bangsawan berdatangan ke ibu kota dari seluruh negeri. Karena mereka datang terlalu malam, tak ada kamar lain tersisa, dan bisa tinggal di sini saja sudah termasuk lumayan.

Pei Xiaoyuan tak mempermasalahkan itu. Sebelum ia meninggalkan ibu kota karena kekacauan keluarga, ia juga pernah hidup layaknya seorang tuan muda bangsawan. Ia tahu betul betapa makmur dan semaraknya Chang’an dan sudah melihat sifat manusia yang berubah-ubah karena otaknya dangkal. Sebuah surat pengangkatan untuk pengwaal Jinwu biasa mungkin memiliki bobot di tempat lain, tetapi sama sekali bukan apa-apa di Pos Changle, yang menjaga gerbang timur ibu kota — di bawah kaki kaisar. Terlebih lagi, melihat mereka lusuh karena perjalanan panjang dan tanpa gaya keberangkatan yang mewah, pelayan pos yang biasa menyambut pangeran, perdana menteri agung, serta kaum bangsawan tentu tidak akan memandang mereka.

Ia tetap tenang, dan dua pelayannya hanya bisa mengikuti. Mengetahui bahwa dua pelayannya yang bersamanya sudah kelelahan, Pei Xiaoyuan menyuruh mereka beristirahat, lalu ia masuk ke kamarnya. Baru saja ia mengganti pakaian yang basah, terdengar ketukan di pintu. Ia membuka pintu — ternyata pengelola pos datang, diikuti pelayan yang tadi menyambutnya. Tetapi sikap pihak itu kini sama sekali berbeda dari tadi, penuh ketakutan. Begitu Pei Xiaoyuan menampakkan diri, ia langsung memohon ampun:

“Hamba ini buta dan gagal mengenali orang terhormat, dan telah menyinggung Tuan tadi. Mohon ampuni hamba ini, Tuan muda Pei!”

Pei Xiaoyuan sedikit bingung dan memandang pengelola pos.

“Maaf, Tuan. Apakah Anda Pei Xiaoyuan, Kapten Kavaleri Awan di bawah Pei Ji, keponakan bupati Weiyuan dari Jalan Ganliang?”

Pei Xiaoyuan mengiyakan dan bertanya ada urusan apa.

Pengelola pos mengangkat kakinya dan menendang pelayan di sampingnya keras-keras, membuatnya jatuh tersungkur. Lalu ia berbalik kepada Pei Xiaoyuan, menjelaskan bahwa ia tidak tahu kalau beliau akan datang — sehingga lalai dan bersikap tidak sopan — dan datang untuk meminta maaf. Meskipun kamar memang penuh, masih ada satu kamar tingkat atas yang kosong malam ini, jadi ia mempersilakan beliau pindah.

Kamar tingkat atas itu untuk pejabat peringkat ketiga ke atas. Pei Xiaoyuan tersenyum dan berkata:

“Bagaimana mungkin aku melampaui wewenang? Aku bisa tinggal di sini saja. Hanya untuk satu malam.”

Pengelola pos berkali-kali memohon, tetapi Pei Xiaoyuan tetap tidak bergeming, jadi ia akhirnya menyerah — hanya mengganti tempat dupa, lilin, teh panas dan air, serta alas tidur bersih untuknya — lalu pergi.

Pos Changle yang tadi kasar lalu sekarang hormat sedemikian rupa sangat membingungkan, tetapi ia terlalu lelah setelah perjalanan tergesa mengejar tenggat waktu, jadi ia tidak memikirkannya. Ia tidur setelah beres membersihkan diri, dan tak tahu sudah berapa lama berlalu — tiba-tiba ada beberapa ketukan di pintu. Suaranya sangat pelan, namun ia langsung terbangun dan bertanya siapa.

“Di luar Ada orang dari istana. Tuan muda Pei, mohon keluar untuk menemui beliau.” Suara pengelola pos terdengar.

Pei Xiaoyuan perlahan membuka mata.

“Siapa, dari istana?”

“Pengawas dari Kantor Istana—”

“Itu Yuan Zhi, Pengawas Yuan.”

Takut ia tidak tahu siapa orang itu, pengelola pos menjelaskan dengan suara rendah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

Scroll to Top