Melukis Seribu Gunung | Chapter 14

Penjaga kota memberi tahu Pei Xiaoyuan bahwa hari ini seperti biasa, gerbang kota dibuka pada pergantian jaga kelima. Di antara orang-orang yang menunggu untuk keluar kota, sepertinya ada seseorang yang ciri-cirinya cocok dengan deskripsi yang ia berikan. Setelah memeriksa surat izin keluar yang orang itu bawa, ia membiarkannya pergi tanpa bertanya lebih jauh.

Jelas, orang itu adalah Nona Ye.

Pei Xiaoyuan hendak keluar kota ketika ia melihat Chengping menyusul dari belakang sambil menunggang kuda. Wajah Chengping penuh rasa bersalah, dan ia langsung mengaku salah. Ternyata, barusan He-shi bertanya padanya untuk mengonfirmasi apa yang dikatakan Zhu’er. Ia sadar bahwa perkataannya telah menimbulkan masalah dan ia sangat merasa bersalah.

“Aku sudah menjelaskan pada Tuan Pei tua bahwa hal ini bukan karena kau! Aku yang mengetahui soal pernikahanmu dari pelayan, lalu bertanya padamu. Karena kau tidak mau menjawab, aku asal menyimpulkan sendiri dan mengatakan hal bodoh, sehingga Nona Ye salah paham padaku. Bahkan kau sampai dimarahi oleh Tuan Pei tua—”

“Lupakan! Kau tidak bermaksud demikian!”

Pei Xiaoyuan menghentikannya, “Tidak perlu bicara lagi. Kau sebaiknya mulai perjalananmu dahulu. Maaf aku tidak bisa mengantarmu. Aku akan mengejarnya.”

“Aku ikut! Akulah penyebab masalah ini, jadi seharusnya aku yang menjelaskan padanya!”

Pei Xiaoyuan memandangnya dan melihat bahwa Chengping memang tulus, jadi ia mengizinkannya. Ia pun memacu kuda keluar kota, dan Chengping mengikutinya dari belakang. He Jin juga sudah tiba di pintu gerbang kota dan sedang menunggu. Ia melihat kedua orang itu keluar dari jauh dan maju untuk menyambut mereka, baru kemudian ia tahu bahwa kecelakaan ini telah terjadi.

“Aku ikut juga. Aku tahu jalan itu!”

He Jin segera memanggil beberapa orangnya untuk mengikuti.

Kota ini adalah pusat kabupaten Weiyuan, dan satu-satunya jalan utama dari Jalan Ganliang menuju ibukota. Selain para pelancong, pada siang hari juga ada rombongan kafilah unta dan kuda yang tidak putus lewat di jalan raya. Pei Xiaoyuan mengejar dan mencari, dan akhirnya mendapat kabar yang ia inginkan dari pemimpin rombongan kafilah yang sedang berhenti beristirahat di pinggir jalan saat tengah hari: ada seorang pemuda yang membeli kuda dari mereka di pagi hari. Jika tidak ada hambatan di jalan, ia pasti sudah pergi setidaknya belasan li.

Berdasarkan petunjuk itu, rombongan mereka memacu kuda secepat mungkin dan akhirnya mengejar sampai pada sebuah percabangan jalan.

Jalan itu bercabang menjadi dua dari sini. Jalan utamanya menuju ibukota, sementara cabang jalan lainnya, menurut He Jin, adalah jalan yang ia lewati ketika ia menjemput sang nona dulu.

Seharusnya nona ye melewati jalan cabang ini untuk pulang. Pei Xiaoyuan pun memilih melalui jalan ini, namun demi berjaga-jaga, ia memerintahkan orang-orang He Jin untuk tetap menyisir ke arah jalan utama.

“Jika kalian melihatnya, hentikan dia. Tidak peduli apakah ia mau atau tidak, kalian tidak boleh membiarkannya pergi.

“Tahan orangnya dan pastikan menunggu aku!” ia menekankan lagi.

Orang-orang itu mematuhi. Setelah memberi perintah, Pei Xiaoyuan segera membelokkan kudanya ke jalan cabang.

Tidak banyak orang yang melewati jalan ini. Setelah mengejar lagi sepuluh sampai dua puluh li, pemandangan semakin sepi dan tandus, dengan sangat sedikit kereta maupun kuda lewat. Jarak antar pos jaga, pos pemeriksaan, maupun desa-desa di sepanjang jalan juga semakin berjauhan. Bahkan ada puluhan li tanpa pemukiman sama sekali , hanya padang belantara dan bukit-bukit gersang.

Pei Xiaoyuan mengejarnya cukup jauh hingga ia mulai ragu mengenai arah keberadaannya.

‘Aku akan pergi kembali ke tempatku berasal.’

Itu yang ia tuliskan dalam suratnya.

Bukankah ini jalan kembali ke tempat asalnya?

Pada saat itu, sebagian besar hari sudah berlalu, matahari mulai terbenam, dan mereka telah mengejar selama dua sampai tiga ratus li tanpa berhenti. Kuda-kuda kafilah punya kekuatan kaki yang terbatas dan jelas tidak bisa dibandingkan dengan kuda-kuda perang yang kuat dan tangguh yang mereka tunggangi. Bahkan jika ia pandai menunggang kuda sekalipun, ia tidak mungkin melaju secepat itu. Mereka telah mengejarnya sampai sejauh ini, tetapi tetap tidak bisa melihat bayangannya.

Chengping biasanya adalah orang yang bahkan jika langit runtuh pun ia tidak terlalu peduli, namun hari ini ia pasti merasa tertekan. Di sepanjang jalan ia hanya diam dan fokus mencari orang. Pada saat ini, ia akhirnya tidak bisa menahan diri dan bertanya pada He Jin apakah ia sudah salah mengambil jalan atau apakah ada jalan lain.

He Jin menggeleng: “Aku mengambil jalan ini saat aku datang! Baru beberapa hari yang lalu, aku masih ingat dengan jelas. Tidak mungkin aku salah!”

Meskipun nadanya yakin, kenyataannya mereka sudah mengejar sejauh ini tetapi tetap tidak bisa melihat siapa pun. Setelah mengatakannya, ia mulai ragu juga.

“Apakah mungkin… sang nona tidak pergi ke arah ini?”

Pei Xiaoyuan memperlambat kudanya, akhirnya berhenti dan memandang sekeliling.

Chengping dan He Jin juga berhenti bersamanya dan melihat bahwa ia tiba-tiba menutup matanya, menghadap ke ladang, diam tak bergerak, seolah ia sedang berkonsentrasi mendengarkan sesuatu.

Angin bertiup kencang dari segala arah, dan telinga mereka dipenuhi suara angin.

“Tuan muda, apa yang kau dengar?”

He Jin juga berusaha mendengar dengan saksama. Ia tidak mendengar apa-apa selain suara angin. Ketika Pei Xiaoyuan membuka matanya, ia segera bertanya.

Pei Xiaoyuan melihat sekeliling lagi: “Barusan aku sepertinya mendengar ringkik kuda, tapi ketika aku mencoba mendengarkannya lagi, ia menghilang. Anginnya terlalu kuat, aku tidak yakin apakah aku mendengarnya dengan benar…”

Ia ragu sejenak dan berkata, “Mungkin aku salah dengar.”

Chengping pernah bertarung dengannya sebelumnya dan tahu bahwa pendengarannya sangat tajam dan jarang sekali ia membuat kesalahan. Ia lalu melihat sekeliling dan bertanya, “Apakah mungkin itu adalah tunggangan Nona Ye? Apakah ia melihat kita dari jauh dan sengaja bersembunyi?”

Gagasannya tidak sepenuhnya mustahil.

Akan sia-sia jika terus mengejar dari jalur ini.

“Mengapa kita tidak mengikuti saran Yang Mulia dan berpencar untuk mencari tempat-tempat terdekat yang mungkin ada orang bersembunyi?” kata He Jin setelah berpikir sejenak.

Pei Xiaoyuan mengangguk: “Baik. Jika kalian menemukan sesuatu, tiup peluit rusa sebagai sinyal.”

Setelah berdiskusi, melihat hari hampir habis dan waktu tidak banyak, Chengping dan He Jin menuntun kuda mereka kembali ke jalan dan menuju lereng di kejauhan di kedua sisi untuk mencari secara terpisah.

Pei Xiaoyuan tetap di atas kuda selama beberapa saat, lalu tiba-tiba berbalik, matanya menyapu ke arah belakangnya, dan tanpa ragu, ia memutar kudanya kembali.

Seperti yang ia katakan barusan, ia mendengar ringkik pendek seekor kuda. Ia tidak sepenuhnya yakin apakah ia salah dengar, tetapi pada saat itu, ia merasa seolah ada sepasang mata dalam kegelapan di belakangnya, mengawasinya dari arah yang tidak diketahui.

Ia menuntun kudanya kembali melewati jalan sejauh beberapa puluh kaki, lalu perlahan menghentikan kudanya di tengah jalan lagi.

Saat senja semakin dalam, matahari terbenam di balik pegunungan di kejauhan mencapai warna paling cerahnya. Cahaya merah menyala menyebar di atas padang belantara, bahkan sosok di atas kuda pun tertutup cahaya samar.

“Saudari?”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

Scroll to Top