Melukis Seribu Gunung | Chapter 23

Seseorang menuntun seekor kuda dari balik kegelapan. Tubuhnya hitam legam, bulunya berkilau, dan dalam cahaya obor, tampak seolah diselimuti satin hitam. Kepala kecil, leher panjang, badan serupa naga, dan keempat kakinya kokoh. Itu jelas kuda yang luar biasa gagah. Bukan hanya itu — pada dahinya ada satu titik merah.

Seluruh tubuh hitam — hanya titik merah itu yang mencolok.

Melihat kuda yang begitu megah di depannya, bahkan Pei Xiaoyuan pun tak dapat menahan diri untuk menatap lebih lama. Tiba-tiba, perhatiannya tertarik pada tanda merah di dahinya.

Entah kenapa, pada saat itu — ia kembali teringat pada Nona Ye.

He Jin seharusnya sudah kembali sekarang. Ia bertanya-tanya bagaimana perkembangan pencarian di sana — apakah mereka telah menemukannya…

Yuan Zhi sempat melihat bahwa tatapannya terpaku pada kuda itu. Ia tersenyum dan memberi isyarat kepada bawahannya untuk membawa kendali dan cambuk.

“Tiga tahun lalu, negara kita memenangkan perang di Xifan. Penguasa wilayah Barat datang menawarkan kuda-kuda pilihan untuk merayakan. Kuda ini yang paling perkasa di antara semuanya. Karena ada tanda merah di dahinya seperti matahari, ia dinamai Jinwuzhui.”

Pei Xiaoyuan mengumpulkan pikirannya kembali, lalu naik ke atas kuda itu. Yuan Zhi juga menaiki tunggangannya. Rombongan itu pun lenyap ke dalam malam yang hitam kelam.

Penjaga yang bertugas di Gerbang Tonghua menunggu di menara gerbang. Ketika melihat sekelompok orang mendekat dari kejauhan, ia mengangkat obor, dan pihak seberang menjawab sinyal itu. Ia segera membuka gerbang kota.

Di dalam kota, beberapa jalan raya lurus membentang dari timur ke barat, dan dari utara ke selatan.

Pada jam-jam dini hari — saat jaga keempat (antara pukul 1–3 pagi) — gerbang-gerbang kota tertutup dan seluruh kota terlelap. Pada saat ini, satu-satunya yang menemani kota hanyalah cahaya bulan abadi, dan bayangan pasukan penjaga Jinwu yang sesekali berpatroli.

Jalan-jalan mulus tanpa hambatan, dan diiringi hentakan pelan kuku kuda di atas tanah, Pei Xiaoyuan tiba di depan gerbang istana yang tersimpan dalam ingatannya. Gerbang istana itu kini terbuka, tanpa pengamanan untuknya. Ia masuk, melewati aula demi aula istana bertingkat banyak dan lorong-lorong panjang yang seolah tak berujung di tengah malam ini, sampai akhirnya berhenti di tempat tujuan yang ingin mereka capai malam ini.

Langit gelap, namun nama istana samar-samar tampak pada papan di atas gerbang.

Istana Ziyun.

Yuan Zhi terus memimpin ke dalam, dan berhenti di luar aula utama.

Pada saat ini, ia tidak lagi tampak seperti lelaki bengis di luar Rumah Pos Changle yang membuat kepala pos gemetar ketakutan. Di hadapan pintu istana yang tertutup rapat ini, ia berdiri tegak, kedua tangan terjulur ke bawah, dan ekspresinya menjadi sangat penuh hormat, seakan sosok di balik pintu ini adalah dewa tertinggi dengan kewibawaan mutlak.

Pei Xiaoyuan sendirian menaiki tangga, dan tiba di depan pintu istana. Ia mengulurkan tangan, berhenti sejenak, lalu perlahan mendorong pintu berat itu terbuka.

Di depannya, sebuah aula persembahan yang luas terbentang. Di dalam aula berdiri dua tungku dupa perunggu putih berkaki tiga, tingginya lebih tinggi dari kepala manusia. Perut tungku telah memerah karena panas dupa di dalamnya, dan asap putih mengepul seperti awan di atasnya. Di tengah, pada altar awan-naga dari batu giok putih, berdiri patung Yuanshi Tianzun. Sang Dewa Agung berselubung jubah megah dan duduk, dengan dua abdi dewa mengapit di kiri dan kanan. Tirai tergantung mengelilingi patung tersebut. Dari bagian terdalam aula, seorang kasim muda belasan tahun berjalan keluar dan memimpin dirinya melewati aula depan, melewati lorong, hingga akhirnya tiba di sebuah aula samping di utara.

Kasim muda itu berhenti di depan tirai kristal — lalu mundur dengan diam.

Ia menunggu di depan tirai sangat lama, namun telinganya tetap diselimuti kesunyian. Tak ada sosok yang muncul, tak ada suara disuarakan. Seakan ia adalah satu-satunya manusia yang hidup di istana yang luas ini.

Namun nalurinya berkata — pada saat ini, di balik tirai itu, dan layar yang ada di baliknya — sepasang mata sedang mengamati dirinya.

Ia berdiri menanti — menunggu pemilik mata itu memecah sunyi.

Satu batang dupa cendana yang ditancapkan pada tungku kecil di sudut aula telah habis terbakar. Gumpalan abu putih yang melengkung di ujungnya perlahan mendingin — lalu tiba-tiba runtuh dan jatuh.

Pada momen yang hampir bersamaan — sebuah suara terdengar dari kedalaman istana.

“Kau pemuda dari keluarga Pei itu?”

Suara itu terdengar dari balik tirai — tua, serak, rendah.

Pei Xiaoyuan mengangkat ujung jubahnya dan bersujud ke arah layar di balik tirai manik-manik yang berada di depannya.

“Bawahan hina Pei Xiaoyuan menyampaikan sembah hormat kepada Yang Mulia.”

Setelah selesai bersujud, ia tidak menerima perintah untuk bangkit. Karena itu, ia hanya bisa tetap berlutut seperti itu. Setelah beberapa saat, suara itu akhirnya terdengar lagi dari balik layar.

‘Di dunia ini ada gunung, Gunung yang Mengundurkan Diri. Seorang junzi ( pria yang terhormat) menjaga jarak dari kaum hinail, tegas namun tidak kejam.’
Apakah itu asal dari nama kehormatanmu, Junyan?
Sangat cocok untuk tindakanmu hari ini. Zhen pikir keluarga Pei sudah terbiasa tinggi hati, dan bahkan seorang bocah pun akan meremehkan pangkat Penjaga Jinwu milik Zhen.”

Nada kata-katanya datar — terdengar seakan memuji — namun sinisme itu hampir menembus layar dan mengenai wajahnya.

Pei Xiaoyuan sempat tertegun, namun segera mengerti.

Surat pengangkatannya memberinya waktu hampir tiga bulan. Setelah meninggalkan Ganliang, ada dua jalur pos menuju Chang’an — jalur Qinzhou di selatan atau jalur Huizhou di utara. Jalan manapun cukup untuk tiba tepat waktu. Ia seharusnya tidak tiba sebelum hari terakhir.

Ternyata tindakannya menekan batas waktu — menginjak mepet deadline — telah membuat murka orang yang berada di balik tirai itu.

Ini memang situasi yang sama sekali tidak terpikir sebelumnya. Bisa jadi… orang di balik tirai itu menunggu.

“Hamba tidak berani. Sebelum hamba menerima surat pengangkatan, ada urusan mendesak yang harus diselesaikan, sehingga hamba tertunda beberapa waktu.”

Ia menjelaskan.

Setelah hening beberapa saat, suara itu kembali.

“Kau tidak takut pada Zhen?”

“Semua orang menyebut Yang Mulia sebagai Sang Santo. Di hadapan Sang Santo, hamba berterus terang dan tidak punya apa pun untuk disembunyikan — mengapa harus takut?”

“Semua orang menyebut Sang Santo… lalu bagaimana denganmu?”

Suara itu kembali menekan dengan satu pertanyaan tambahan.

Pei Xiaoyuan terdiam sejenak.

“Sama seperti orang di seluruh dunia — hamba pun memandang Yang Mulia sebagai Sang Santo.”

Orang di balik layar tidak langsung menjawab. Setelah beberapa detik, barulah terdengar dengusan dingin.

“Tapi Zhen tidak merasa begitu.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

Scroll to Top