Terlahir Kembali untuk Menjadi Ibu Tiri Pemeran Utama | Chapter 43

Dorongan orang-orang di sudut tribun itu telah menimbulkan keributan. Para nyonya begitu ketakutan hingga diam-diam mengambil dua langkah mundur. Anak itu baru berusia sembilan tahun, tetapi tubuhnya sudah kokoh. Ia mendengar perkataan Lin Wei Xi dan mendengus. Ia berkata, “Siapa kau, minggir, jangan menghalangi pangeran ini menonton perahu naga!”

Lin Wei Xi melirik pakaiannya dan bisa menebak identitas anak itu. Zhao Wang gugur dalam pertempuran beberapa tahun lalu, hanya menyisakan Wangfei dan satu putra kecil. Bagaimana mungkin janda dan anak yatim itu menjaga tanah Zhao? Kaisar Mu Zong merasa iba pada keponakannya yang masih kecil, lalu membawa mereka ke ibukota, dan menganugerahi gelar Zhao Wang lebih awal agar mereka bisa menikmati tunjangan pangeran, tidak perlu mengkhawatirkan hidup, ataupun menghadapi hawa dingin utara. Ketika kelak kecil Zhao Wang dewasa, barulah ia akan pergi ke daerah penempatan (kabupaten). Keluarga Zhao Wang pun tinggal di ibukota seperti ini, beberapa tahun lebih awal daripada kediaman Yan Wang.

Kecil Zhao Wang mewarisi gelar pada usia sangat muda. Ibunya muda dan menjanda. Ia adalah satu-satunya darah daging yang tersisa. Bisa dibayangkan betapa ia dimanjakan. Zhao Wang tak punya tetua pria yang mendisiplinkan, dan sepanjang tahun dimanjakan oleh ibunya dan para pelayan. Sekarang usia Zhao Wang sembilan tahun, ia sudah menjadi ‘penguasa kecil’ yang dihindari semua orang di ibukota. Seperti sekarang, siapa yang bisa mencegahnya mendorong orang dengan dingin? Namun, karena pihak lain adalah wangye kecil, tiada satu pun yang berani mengendalikannya, hanya bisa menganggap nasib sial saja.

Para madam di sekitar serempak mundur dan menghindarinya. Seorang nyonya berhati baik merasa Lin Wei Xi mungkin tidak tahu siapa anak itu, jadi ia berbisik pelan, “Ini Zhao Wang.”

Ini Zhao Wang. Itu sudah cukup.

Zhao Wang mendengus arogan saat melihat reaksi itu: “Dengar tidak, aku adalah Wangye! Siapa suruh kalian menghalangi aku menonton perahu, pantas saja didorong!”

Mendengar ucapannya, dada Lin Wei Xi seperti terbakar. Pelayan kediaman Putri buru-buru menahan Lin Wei Xi dan mengingatkan: “Nona, Zhao Wang masih kecil, wajar ia suka bermain, mari lihat kondisi yang terluka dulu.”

Lin Wei Xi tahu mereka masih berada di dalam istana, dan meski pihak lainnya sewenang-wenang, ia tetap seorang wangye kecil. Walaupun ia berbuat tercela, itu hanya bisa diserahkan pada keluarga Gu untuk mengajar­inya kelak. Ia tidak bisa menimbulkan masalah bagi Kediaman Putri. Lin Wei Xi melemparkan tatapan marah pada Zhao Wang, lalu berbalik memandang wanita yang hampir terdorong jatuh: “Nyonya, bagaimana keadaan Anda?”

Wanita itu baru dua puluh lima atau dua puluh enam tahun, barusan saja tersadar dari ketakutan. Begitu mendengar bahwa pihak sana adalah Zhao Wang yang berpengaruh, mana mungkin ia berani menuntut, ia buru-buru menggeleng: “Saya baik-baik saja. Terima kasih Nona sudah menolong saya, Nona tak perlu menghiraukannya.”

Wanita itu takut semangat kebenaran Lin Wei Xi akan menimbulkan masalah, sehingga ia buru-buru menggenggam Lin Wei Xi berusaha meredakannya. Pergerakan di sini sudah menarik perhatian Janda Permaisuri Qian di seberang sana, dan Lin Wei Xi tak punya pilihan selain berkata: “Nyonya, Anda sedang hamil, barusan itu benar-benar tidak apa-apa? Kalau begitu, biarkan saya temani keluar memanggil tabib?”

“Tidak perlu.” Wanita itu ingin menolak, tetapi Lin Wei Xi melihat wajahnya dan bersikeras menemaninya mencari tabib istana. Penolakan wanita itu tak ada gunanya, dan perut bagian bawahnya memang terasa tak nyaman, ia tak berani tinggal di tempat ini lagi, jadi ia melemparkan pandangan penuh terima kasih pada Lin Wei Xi dan mengikuti Lin Wei Xi pergi.

Setelah meninggalkan tribun, barulah wanita itu berani menghembuskan napas panjang, dan rautnya berubah menyakitkan. Lin Wei Xi melihat ada yang tidak beres, dan segera memerintahkan orang Kediaman Putri mengambil tanda Putri Shou Kang dan pergi ke Balai Medis memanggil tabib.

Lin Wei Xi membantu wanita itu duduk di paviliun air. Tempat ini memang disediakan untuk orang beristirahat. Sekarang semua orang sedang menonton perahu naga bersama janda Permaisuri, paviliun air kosong dan bersih. Lin Wei Xi membantu wanita itu duduk, melihat wajahnya, sungguh cemas.

Ia tumbuh di keluarga besar dan tahu betapa berbahayanya kondisi wanita saat mengandung. Ibunya Wei-shi wafat karena keguguran, jadi Lin Wei Xi benar-benar tidak tahan melihat orang memperlakukan perempuan hamil dengan kasar. Ia sangat cemas sampai jadi marah, dan terus menoleh ke luar: “Mengapa tabib istana belum datang juga?”

Wanita itu mengerutkan alis dan setengah bersandar pada kursi tangan, wajahnya pucat. Melihat Lin Wei Xi cemas demi dirinya, ia tersentuh dan berkata, “Terima kasih Nona. Anda dan aku belum pernah bertemu tapi Anda menyelamatkanku tanpa ragu. Sekarang bahkan memanggilkan tabib untukku. Kebaikan sebesar ini, Su Niang akan mengingat seumur hidup, dan akan membalas berlipat—”

“Jangan bilang begitu, barusan Anda sangat terkejut. Yang paling mendesak adalah beristirahat. Soal membalas, tak perlu membalas apa pun. Siapa pun melihat hal seperti ini tak mungkin hanya diam saja. Di masa depan, ketika anak ini lahir dengan selamat, Anda membesarkannya hingga dewasa, anggap itu balasan terbesar.”

Mata wanita itu hampir merah: “Nona, Anda benar-benar orang baik, kebaikan ini Su Niang tak akan lupa. Nama keluarga wanita ini Liu, nama gadinya Su Niang. Bolehkah saya tahu bagaimana Nona harus dipanggil?”

Liu Su Niang, Lin Wei Xi tidak berpikir apa-apa ketika mendengar nama itu, dan berkata, “Nama keluargaku Lin, nama gadiskuku Wei Xi.”

Liu Su Niang mendengar ini dan ia mengerti: “Ternyata Nona Lin. Beberapa hari lalu aku mendengar Yang Mulia Yan Wang membawa putri Marquis Zhongyong ke ibukota, apakah itu Nona ini?”

Lin Wei Xi tertegun mendengar itu: “Anda mengenalku?”

“Mana mungkin. Hanya mendengar suamiku menyebutkannya, Su Niang hanya mengulang apa yang dikatakan orang lain.” Liu Su Niang tersenyum malu, memandang Lin Wei Xi dengan tatapan kagum yang tulus, “Marquis Zhongyong dengan kesetiaan luar biasa melayani negara. Suamiku sering bilang Marquis Zhongyong adalah teladan generasi ini, sayangnya ia tak sempat bertemu. Tak disangka hari ini Su Niang mendapat berkah tiga masa kehidupan, bisa bertemu Nona Lin, dan Nona Lin ternyata begitu cantik dan bakat kelas pertama.”

Lin Wei Xi juga menyukai madam yang lemah lembut dan pemalu ini. Ia makin menyukainya saat Liu Su Niang menyebut jasa Lin Yong. Lin Wei Xi bertanya: “Tak kusangka ada orang di ibukota yang membaca tentang ayahku. Bolehkah aku tahu siapa suami Anda?”

“Nona Lin terlalu sopan, ia hanya seorang editor di Akademi Hanlin, namanya Shen Ming Da.” Liu Su Niang berkali-kali merendah, tampak sungguh merasa bahwa jabatan suaminya tak tinggi, dan ia merasa sedikit malu di hadapan Lin Wei Xi.

Lin Wei Xi tertegun ketika mendengar nama itu, lalu mengulang dengan tak percaya: “Shen Ming Da?”

Liu Su Niang ikut terkejut oleh nada Lin Wei Xi yang tiba-tiba meninggi, dan terpaku: “Benar. Ada apa? Apa mungkin Nona Lin mengenal suamiku?”

Lebih dari sekadar kenal , nama itu terpatri dalam ingatan Lin Wei Xi, seperti guntur yang menghantam telinga.

Sebelum Lin Wei Xi bereinkarnasi, ia pernah secara kebetulan melihat ‘kitab langit’. Setelah ia mengetahui bahwa dirinya hanyalah karakter dalam buku, pion umpan meriam, ia hampir ketakutan sampai mati, sehingga bahkan tak sempat membaca detail bagian belakang. Tetapi meski begitu, Lin Wei Xi tetap putri pejabat, dan ia dibesarkan di Kediaman Putri sejak lama. Intuisi politik bertahun-tahunnya membuatnya menahan rasa mual, melewati interaksi manis dan membuat mual antara Gao Ran dan Gu Cheng Yao, dan kemudian menemukan bahwa di bagian belakang buku ada banyak unsur penting. Misalnya apa yang akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan, dan siapa yang akan menjadi Kepala Asisten(First Assistant) setelah Zhang Xiao Lian.

Buku itu terutama menggambarkan cinta antara Gao Ran dan Gu Cheng Yao, dan memuji Gao Ran secara sepihak. Bagian yang terkait keadaan istana sangat sedikit, dan kebanyakan singkat. Lin Wei Xi hanya bisa kira-kira menebak arah politik dengan membaca dari sela-sela. Dan Shen Ming Da adalah karakter yang namanya disebut jelas pada bagian akhir buku.

Bukan tanpa alasan, karena Shen Ming Da adalah perdana menteri berikutnya. Shen Ming Da lulus ujian kekaisaran dengan cemerlang sebagai Zhuangyuan¹. Ia menjadi editor di Akademi Hanlin selama bertahun-tahun. Perangainya lembut dan hati-hati, tak pernah menyinggung rekan. Di masa pemerintahan Zhang Xiao Lian ia tak terlalu keras ataupun lembek. Namun setelah Kepala Asisten Zhang yang tiran itu wafat, Shen Ming Da tiba-tiba bersinar, di tengah kekacauan arus, naik ke hulu, dan menjadi perdana menteri baru kabinet.


¹ Zhuangyuan = peringkat pertama ujian kekaisaran (peringkat nomor 1 nasional dalam ujian imperial Tiongkok kuno)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

Scroll to Top