Terlahir Kembali untuk Menjadi Ibu Tiri Pemeran Utama | Chapter 39

Pada hari kelima bulan lima, para pelayan Kediaman Yan Wang sudah mulai bergerak sejak fajar menyingsing. Hari ini kaisar mengadakan festival perahu naga di Xiyuan (taman barat), dan Kediaman Yan Wang menjadi sorotan dalam daftar rombongan yang akan mendampinginya. Setelah itu akan ada rangkaian acara seperti jamuan Festival Perahu Naga dan upacara pengorbanan lima racun di istana. Takutnya Yan Wang harus berangkat paling pagi.

Melihat bahwa seharian ini tidak akan ada waktu untuk beristirahat, sejak pagi para pelayan di kediaman sudah menegangkan saraf. Tirai gantung calamus dan segala dekorasi di kediaman sudah disiapkan kemarin. Pagi-pagi sekali, kereta untuk para perempuan sudah berhenti di gerbang kedua. Saat ini para bangsawan dan pejabat tinggi di ibu kota berpergian dengan penuh gaya, namun Yan Wang telah berada di dunia militer selama bertahun-tahun, ia sejak lama terbiasa dengan aturan keras seperti besi, mana mungkin ia memakai tandu? Bukan hanya Gu Hui Yan, bahkan Gu Cheng Yao, yang tumbuh besar di ibu kota, juga tidak diizinkan bergaya arogan menaiki tandu meski sejauh apapun ia pergi.

Gu Mingda sedang memegang Zhaoxue¹, berdiri di luar Gerbang Chui Hua seperti patung, Zhaoxue mendenguskan hidungnya. Gu Hui Yan mengenakan jubah naga kekaisaran dengan sabuk giok Qinwang kelas satu di pinggangnya, berdiri dengan kedua tangan di depan. Gu Cheng Yao juga berganti pakaian keluarga kekaisaran yang sesuai, namun spesifikasinya jelas satu tingkat lebih rendah di segala aspek dibanding Gu Hui Yan. Entah karena pengurangan motif atau apa, padahal warna sama, Gu Cheng Yao mengenakan pakaian Shizi Qinwang, ia jelas seorang gongzi elegan, namun begitu berdiri di samping Gu Hui Yan, ia langsung tertekan dan sama sekali tidak punya daya untuk menyaingi. Orang-orang yang lewat Gerbang Chui Hua bisa langsung melihat Yan Wang dalam pandangan pertama, dan hanya Yan Wang yang terlihat. Mereka langsung menahan napas dan menundukkan kepala, tidak berani mengangkat wajah.

Gu Hui Yan menunggu di luar Gerbang Chui Hua, kereta di belakangnya sudah siap, hanya menunggu para perempuan di dalam untuk keluar. Biasanya Gu Hui Yan tidak akan menunggu lebih dari setengah cawan teh sejak perintah dikeluarkan hingga seluruh rombongan berangkat. Ia mengatur militer dengan disiplin yang sangat ketat, dan tidak mungkin ada yang berani tidak muncul ketika waktunya tiba. Tidak ada bawahan yang berani membuat Gu Hui Yan menunggu. Namun ibu kota berbeda dari wilayah fief-nya, dan orang yang ia tunggu sekarang juga berbeda dari para prajurit yang taat tanpa suara.

Semua orang dan kuda berdiri tenang. Tidak tahu siapa yang pertama bersuara, seperti sebuah batu dilemparkan ke tengah danau. Koridor yang sunyi dan khidmat itu seketika hidup: “Nona Lin datang.”

Lin Wei Xi ditemani Wan Xing dan Wan Yue tiba di gerbang kedua, ia melihat pemandangan di luar gerbang, tertegun, lalu segera mempercepat langkah: “Yang Mulia sudah tiba? Kalau sudah tiba, kenapa tidak masuk dan memanggilku? Salahku membuat Yang Mulia menunggu.”

Lin Wei Xi berjalan melewati garis cahaya pagi, dan pilar-pilar merah serta sinar pagi putih menjadi latarnya. Gu Hui Yan sempat menatap adegan itu sekali lagi. Hari ini Lin Wei Xi mengenakan atasan sutra putih dan rok kuda merah perak, di sekitar lututnya disulam bunga-bunga besar bak permata dengan benang perak, dan di rambutnya ada tusuk rambut sederhana yang dipenuhi kristal halus, yang memantulkan cahaya pecah saat ia berjalan. Raut wajahnya semakin cantik, hampir terasa seperti bukan manusia. Saat ia sedang masih dalam masa berkabung dulu ia berpakaian sederhana saja sudah mempesona. Kini setelah berdandan megah, seluruh dirinya seakan memiliki efek yang secara alami menarik pandang semua orang di sekitarnya.

Siapapun yang lewat pasti akan menoleh dua kali. Setiap orang punya selera tentang kecantikan, tapi untuk kecantikan Lin Wei Xi yang “mekar sampai puncak” seperti ini, meski tidak diucapkan, mata mereka tetap menunjukkan pikiran paling jujur. Ada kecantikan yang seperti teh, lemah namun halus. Ada yang seperti peony ,megah tapi kosong. Sedangkan Lin Wei Xi mungkin seperti rubi kasar yang dipoles sampai ekstrem. Kau boleh tidak menyukainya, tapi tidak bisa bilang dia tidak cantik.

Sejak Lin Wei Xi muncul, semua orang di situ tak sadar langsung memandang ke arahnya. Begitu ia berjalan, mata-mata itu diam-diam mengikutinya. Sampai Lin Wei Xi berdiri di depan Gu Hui Yan, barulah para pria itu berpaling seolah tidak terjadi apa-apa.

Gu Hui Yan juga memuji diam-diam. Dahulu ia tahu Lin Wei Xi cantik, tapi ia sudah terbiasa melihat wajah yang sama setiap hari. Ia lebih memperhatikan sifat bawel Lin Wei Xi. Namun saat ini, setelah berdandan, dan seluruh esensinya tertata halus, daya serangnya langsung muncul jelas.

Tapi Gu Hui Yan hanya terkejut sebentar di hati, lalu selesai. Perempuan dengan bentuk berbeda, masing-masing punya kecantikannya. Bagaimanapun ia sudah melalui banyak angin besar gelombang besar. Meski Lin Wei Xi begitu cantik, selain kejutan di detik pertama, sulit menggoyahkan hati Gu Hui Yan setelahnya. Gu Hui Yan tidak mengatakan apapun, dan memberi isyarat pada Lin Wei Xi untuk naik ke kereta di belakang: “Tidak apa. Naik ke kereta.”

Lin Wei Xi tidak terlalu memedulikan sekitar. Ia sungguh merasa bersalah: “Membuat Yang Mulia menunggu sungguh tidak sopan. Sudah menunggu lama? Kenapa tidak menyuruh orang masuk memanggilku, aku pikir di luar belum siap…”

“Tidak apa.” Melihat mata Lin Wei Xi yang bersalah namun cantiknya semakin jelas, siapa yang bisa marah? Belum lagi Gu Hui Yan tidak mungkin menyalahkan Lin Wei Xi. Setelah berkata begitu, melihat Lin Wei Xi masih belum lega, ia tersenyum tipis dan berkata, “Jangan khawatir, mereka memang harus menunggumu. Naiklah ke kereta dulu.”

Lin Wei Xi tadi malu, namun tak bisa menahan tawa kecil saat mendengar ini. Senyumnya seperti permata yang memantulkan warna di bawah matahari, membuat orang pusing. Setelah Gu Hui Yan berkata begitu, hati Lin Wei Xi benar-benar lega. Ia mengalihkan pandangan dari Gu Hui Yan, sedikit mundur, dan memberi salam kepada Gu Cheng Yao dan Gu Mingda yang mengikuti di belakang. Setelah menyapa mereka secara lengkap, ia membawa pelayannya naik ke kereta.

Gu Cheng Yao tadi sedikit gelisah, namun begitu Lin Wei Xi muncul dengan begitu mempesona, rasa gelisah itu langsung hilang tanpa jejak. Saat Lin Wei Xi berlari menuju Yan Wang, Gu Cheng Yao entah kenapa merasa aneh. Setelah Lin Wei Xi selesai berbicara dengan ayahnya, barulah Lin Wei Xi menoleh ke belakang. Setelah menyapa sekilas, ia segera mengalihkan pandangan dan pergi. Hati Gu Cheng Yao terasa sangat rumit. Begitu banyak orang menunggu di luar, apakah Lin Wei Xi hanya bisa melihat Yan Wang saja?


¹ Zhaoxue: berarti “salju berkilau”, nama kuda milik Gu Hui Yan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page

Scroll to Top